Wisata Bogor: Sejarah Padjajaran di Prasasti Batu Tulis

Penulis:
Sabtu , 23:26 WIB
Wisata Bogor: Sejarah Padjajaran di Prasasti Batu Tulis
Kumpulan Prasasti Batu Tulis

Prasasti Batu Tulis Bogor, tentu nama yang sudah sangat akrab di telinga kita yang merupakan salah satu bentuk peninggalan zaman kebudayaan Hindu masih ada di tanah air. Buku-buku pelajaran sejarah mulai dari tingkat SD hingga SMA dan sederajat akan menceritakan tentang peninggalan sejarah ini.

Prasasti Batu Tulis pertama kali ditemukan oleh sebuah ekspedisi VOC (Vereenigde Oost Indische Compagnie / Persatuan Dagang Hindia Timur) pada tahun 1687. Pemimpinnya adalah Scipio. Berita penemuan Prasasti Batu Tulis pertama kali tercatat dalam laporan ekspedisi Scipio tersebut bertanggal 28 Juli 1687.

Apalagi bagi masyarakat kota Bogor, tempat dimana prasasti itu ada dan sangat berkaitan dengan Kerajaan Pakuan Padjajaran, bisa dikatakan warganya sudah pasti pernah mendengar nama Prasasti Batu Tulis. 

Prasasti Batutulis terletak di Jalan Batutulis, Kelurahan Batutulis, Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor. Area Prasasti Batutulis memiliki luas 17 x 15 meter. Prasasti Batutulis terletak di ibu kota Pajajaran dan masih berada di sana, masih terletak di lokasi aslinya dan menjadi nama desa lokasi situs itu berada. Batu Prasasti dan benda-benda lain peninggalan Kerajaan Sunda terdapat dalam komplek ini. Pada batu ini berukir kalimat-kalimat dalam bahasa dan aksara Sunda Kuno. Prasasti ini berangka tahun 1455 Saka (1533 Masehi).

Di dalam bangunan rumah yang memiliki pekarangan tersebut, ada 4 buah batu tulis dalam berbagai ukuran dan bentuk. Batu utama yang dikenal sebagai Prasasti Batu Tulis memiliki ukuran tinggi 151 Cm dengan lebar 145 Cm. Batu ini cukup tebal dengan ketebalan antara 12-14 cm. Batu tersebut merupakan jenis bebatuan yang banyak terdapat di sungai Cisadane, yaitu batu Terasit. Terdapat Tulisan dalam bahasa sunda kuno yang berisi:

- Wangna pun ini sakakala, prebu ratu purane pun,

- diwastu diya wingaran prebu guru dewataprana

- di wastu diya wingaran sri baduga maharaja ratu haji di pakwan pajajaran seri sang ratu dewata

- pun ya nu nyusuk na pakwan

- diva anak rahyang dewa niskala sa(ng) sida mokta dimguna tiga i(n) cu rahyang niskala-niskala wastu ka(n) cana sa(ng) sida mokta ka nusalarang

- ya siya ni nyiyan sakakala gugunungan ngabalay nyiyan samida, nyiyan sa(ng)h yang talaga rena mahawijaya, ya siya, o o i saka, panca pandawa e(m) ban bumi

 Arti dari tulisan prasasti tersebut di teliti oleh peneliti sejarah Bogor, Saleh Danasasmita yang menelitinya antara tahun 1981-1984. Dan hasil terjemahan resminya adalah:

- Semoga selamat, ini tanda peringatan Prabu Ratu almarhum

- Dinobatkan dia dengan nama Prabu Guru Dewataprana,

- dinobatkan (lagi) dia dengan nama Sri Baduga Maharaja Ratu Aji di Pakuan Pajajaran Sri Sang Ratu Dewata.

- Dialah yang membuat parit (pertahanan) Pakuan.

- Dia putera Rahiyang Dewa Niskala yang dipusarakan di Gunatiga, cucu Rahiyang Niskala Wastu Kancana yang dipusarakan ke Nusa Larang.

- Dialah yang membuat tanda peringatan berupa gunung-gunungan, membuat undakan untuk hutan Samida, membuat Sahiyang Telaga Rena Mahawijaya (dibuat) dalam (tahun) Saka "Panca Pandawa Mengemban Bumi".

Batu berikutnya dengan bentuk menjulang ke atas dan memiliki ketinggian setara dengan batu utama. Batu ini dikenal dalam masyarakat Hindu di masa lalu sebagai batu lingga. Wujudnya adalah simbolisasi kejantanan kaum laki-laki. Bentuk lingga memang banyak ditemukan pada berbagai peninggalan sejarah dari masa lalu Indonesia.

Selanjutnya batu yang menempel pada prasasti batu utama dan bentuknya datar. Pada batu ini, terlihat seperti cetakan telapak kaki dan pada batu utama terdapat lekukan bekas lutut, seperti ingin menjelaskan bahwa seseorang sedang berlutut atau memberikan salam hormat.

Batu terakhir yang terdapat dalam cungkup atau rumah berbentuk seperti senderan. Tidak terdapat tulisan atau apapun ciri khusus pada batu terakhir ini. Inilah 4 buah batu yang terdapat di lingkungan Prasasti Batu Tulis Bogor.

Batu GIGILANG

Pada lembar keterangan yang berpigura, dijelaskan mengenai Batu GIGILANG. Seharusnya batu ini berada di situs Prasasti Batu Tulis ini dan merupakan bagian dari peninggalan. Namun, konon ketika perang antara Kesultanan Banten dan Kerajaan Pajajaran tak terhindarkan dan menyebabkan runtuhnya kerajaan Hindu tersebut, tentara Banten merampas batu ini. Bagu Gigilang ini menurut penjelasan merupakan batu dengan bentuk singgasana, tempat duduk yang dipergunakan ketika dilakukan penobatan raja baru dalam Kerajaan Padjajaran. Dengan dirampasnya batu ini, tentara Banten berharap tidak ada lagi penobatan raja-raja dalam lingkungan kerajaan Pajajaran.

Batu berbentuk makam

Di bagian luar, ada sebuah tumpukan batu yang tersusun seperti makam. Ada dua tonggak berdiri menyerupai nisan. Tumpukan batu ini diyakini sebagai tempat kuda ditambatkan. 

Prasasti Batu Tulis merupakan peninggalan dari Kerajaan Galuh Pakuan atau sering juga disebut dengan Pakuan Padjajaran atau Padjajaran. Sebuah kerajaan Hindu yang berdiri sejak abad ke 11 hingga ke abad 16.

Prasasti ini dibuat oleh Prabu Surawisesa yang saat itu berkuasa di kerajaan tersebut antara tahun 1521 hingga 1536. Pembuatan prasasti ini ditujukan tidak lain sebagai penghormatan kepada ayahandanya, raja sebelumnya yang sangat terkenal, yaitu Prabu Siliwangi (1482-1521).

Tahun pembuatan yang tertera pada prasasti atau Batu Utama menyebutkan angka 1455. Sistem kalendar yang umum digunakan pada masa tersebut adalah tahun Saka. Tahun ini sama dengan tahun 1533 Masehi.

Versi lain menyebutkan bahwa prasasti dibuat sebagai bentuk penyesalan sang Prabu Surawisesa karena tidak mampu mempertahankan keutuhan wilayah Pakuan Pajajaran, Pada saat itu pasukannya kalah dalam pertempuran melawan Kesultanan Cirebon yang berujung hilangnya sebagian wilayah.

Penelitian tentang Prasasti Batu Tulis sudah dilakukan oleh banyak ahli arkeologi dan sejarah sejak masa lampau. Tercatat tahun 1853 Friedrich , seorang ahli Belanda yang juga diduga sebagai penemu patung Lembu Nandi di Kebun Raya Bogor. 

Akses Menuju Prasasti Batu Tulis

Dengan angkutan umum/angkot 

Dari Stasiun Bogor :

Sekeluarnya dari pintu keluar stasiun, berjalanlah sedikit ke arah Taman Topi yang berada di sebelah stasiun. Ikuti saja trotoar di depan stasiun. Perhatikan! Jangan menyeberang jalan Kapten Muslihat.

Di depan Taman Topi naiklah angkot no 02 Merah tujuan Sukasari.

Angkot ini akan memasuki jalan Lawang Gintung dan kemudian ke Jalan Batu Tulis. Di depan Istana Batu Tulis, berhentilah. 

Dimana Anda berhenti akan terlihat papan bertuliskan tentang cagar budaya Batu Tulis. Juga terdapat papan penunjuk ke situs Prasasti Batu Tulis.

Dari Terminal Baranangsiang :

Anda bisa menuju ke arah belakang terminal dimana angkot biasa mangkal. Bisa juga Anda menyeberang Jalan Pajajaran di depan terminal.

Anda harus mencari angkot no 01-A Merah. Angkot ini akan membawa Anda ke arah Tajur/Ciawi. 

Tujuan yang harus Anda tempuh adalah ujung Jalan Pajajaran yang mengarah ke Tajur. Tepat di pertigaan lampu merah di dekat Ekalokasari Plaza, berhentilah.

Lalu menyeberanglah ke arah Tan Ek Coan. Disana akan terlihat banyak angkot yang menuju ke arah Lawang Gintung. Bisa juga Anda berjalan sedikit ke mulut Jalan Lawang Gintung untuk menunggu angkot 02 Merah. 

Selanjutnya, berhentilah di depan Istana Batu Tulis dan cari papan penunjuk Prasasti Batu Tulis. Sama persis dengan kalau Anda berangkat dari Stasiun Bogor.

Dengan Kendaraan Pribadi :

Bila Anda melalui Jalan Tol Jagorawi, pintu keluar terbaik dengan lokasi Prasasti Batu Tulis adalah Pintu Keluar di Baranangsiang.

Berbeloklah ke arah kiri dan masuki Jalan Pajajaran. Melajulah lurus hingga Anda menemukan pertigaan lampu merah dan Plaza Ekalokasari.

Berbeloklah ke arah Jalan Siliwangi (dan kemudian ikuti arus kendaraan memasuki Lawang Gintung). Setelah itu ikuti saja arus kendaraan dan jangan berbelok.

Tepat di depan Istana Batu Tulis, maka Anda akan melihat papan penunjuk Prasasti Batu Tulis.

Meskipun demikian, bila Anda menggunakan mobil, maka kesulitannya adalah menemukan lahan parkir. Tidak tersedia lahan parkir mobil dan bahkan motor bagi pengunjung situs Prasasti Batu Tulis.

Anda harus menemukan lahan parkir terdekat dan kemudian berjalan kaki ke lokasi. Tidak diperkenankan parkir di sepanjang lokasi karena berseberangan dengan Istana Batu Tulis.

Jam Operasional :

Situs Prasasti Batu Tulis buka untuk umum mulai pukul 08.00 s/d 16.00. Penjaga situs, ibu Maemunah yang sudah menjaga lokasi sejak tahun 1992,  tinggal di dekat lokasi. Bila menemukan cungkup masih terkunci, bisa mencoba bertanya kepada orang yang berada di sekitar lokasi letak rumah ibu Maemunah.

Alamat

Jl. Batu Tulis No. 54, Batutulis, Bogor Selatan, Kota Bogor, Jawa Barat 16133, Indonesia

Sumber:

- lovelybogor.com

- wikipedia.org

Navigasi Google Maps

Artikel Tag: prasasti batu tulis, wisata sejarah, sejarah bogor, bogor, jawa barat

     
3199